Info Sekolah
Rabu, 24 Jul 2024
  • Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman Bertaqwa Berakhlak Mulia, Unggul dalam Prestasi, dan Cinta Lingkungan

MENEPIS KEKHAWATIRAN LEARNING LOSS DENGAN MENUMBUHKANBUDAYA MEMBACA

Diterbitkan :

Oleh : Yuniarso Amirudin, S.Pd, M.Si

Kepala Sekolah SMAN 1 Kersana

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar tegal Tanggal 4 Februari 2021)

 

Belum adanya kepastian kapan situasi pandemi covid-19 ini berakhir memunculkan kekhawatiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan terjadinya learning loss pada peserta didik. Kekhawatiran tersebut didasarkan pada hasil survei Kemendikbud pada 13 November hingga 17 Desember 2020 yang menyimpulkan 68% dari 11.306 guru sebagai responden survei itu menyatakan bahwa 50% atau lebih siswa tidak memenuhi standar kompetensi yang diharapkan selama PJJ. “Learning loss tanda-tandanya sudah mulai tampak, meskipun ini baru merupakan persepsi atau hasil analisis guru berdasarkan asesmen diagnostiknya”, kata Kabalitbang dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno.

Menurut Nadiem ada 3 dampak negatif dari kegiatan pembelajaran jarak jauh. Pertama adalah putus sekolah, hal ini disebabkan ada beberapa anak yang harus bekerja membantu orang tua karena pandemi covid-19. PJJ tak optimal akhirnya siswa putus sekolah. Persepsi orang tua juga berubah, sehingga ancaman putus sekolah ini menjadi riil dan bisa berdampak seumur hidup. Dampak kedua adalah penurunan capaian belajar. Hal itu disebabkan karena kesenjangan kualitas kepemilikan akses teknologi. Selain itu ada risiko learning loss karena PJJ tak efektif. Adapun ketiga adalah risiko kekerasan pada anak dan risiko stres di dalam rumah karena tak bertemu teman dan lain-lain.

Learning loss adalah fenomena dimana sebuah generasi kehilangan kesempatan menambah ilmu karena ada penundaan proses belajar mengajar. Secara rinci, guru yang menyatakan sebagian besar siswa memenuhi standar kompetensi hanya 31,9%. Selanjutnya 7,6% guru menyatakan 50% siswa memenuhi standar kompetensi. Dan sebesar 20,6% guru menyatakan hanya sebagian kecil siswa memenuhi standar kompetensi. Yang 20% inilah yang diduga mengalami learning loss paling besar. Hanya 20% yang memenuhi standar kompetensi, artinya 80% diduga tidak mencapai capaian pembelajaran yang diharapkan.

Andreas Schleicher (2020) mengatakan aspek yang paling mengganggu pada situasi sekarang ini ialah pandemi telah memperbesar ketidakadilan dalam sistem pendidikan kita. Termasuk akses yang tidak setara terkait kepemilikan gadget sebagai  media PJJ, kuota dan jaringan internet serta kurangnya lingkungan rumah yang mendukung untuk belajar. Hal itu juga  yang memiliki andil dalam memperbesar peluang terjadinya learning loss.

Sementara itu, simulasi potensi dampak penutupan sekolah akibat covid-19 yang dilakukan Bank Dunia pada perolehan rata-rata skor pada survei Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA), meneguhkan potensi terjadinya learning loss ini. Menurut studi yang dilakukan Bank Dunia terhadap praktik pendidikan di 157 negara pada Juni 2020 di sekolah menengah rata-rata siswa akan kehilangan 16 poin PISA sebagai akibat dari penutupan sekolah atau setara dengan kurang dari setengah tahun pembelajaran di negara tertentu. Situasi ini tentu sangat mengkhawatirkan dan membuka peluang yang semakin lebar bagi terjadinya learning loss termasuk diantaranya di negara kita.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya lost generationakibat learning loss sebagaimana sinyalmen  Nadiem Makarim. Diantaranya dengan memfasilitasi berbagai platform PJJ seperti: google meet, zoom, discord, google suite for education, edmodo, zenius education, dan lain lain. Meski demikian platform yang muncul masih menunjukkan dominasi terhadap aktivitas belajar-mengajar formal. Belum banyak yang menawarkan keasyikan belajar dengan pendekatan dunia anak dan remaja. Penguasaan konten pembelajaran masih menjadi target utama.

Di sisi lain pada saat pandemi ini ajakan memanfaatkan waktu luang untuk membaca hampir tak terdengar. Wajar jika laporan PISA yang dirilis pada bulan Desember 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara. Pemerintah begitu cemas jika terjadi loss learning sehigga wacana membuka sekolah begitu kuat. Namun, kegelisahan pada tingkat literasi yang rendah tak muncul yaitu pentingnya menumbuhkan kebiasaan membaca (reading habit). Kegiatan membaca bagi anak-anak di rumah masih belum mendapat perhatian serius. Padahal, di sela-sela aktivitas yang berhubungan dengan pembelajaran formal, anak-anak memiliki waktu yang longgar untuk membaca. Sisa waktu bermain yang cukup banyak menjadi penting diisi dengan aktivitas membaca karena durasi jam PJJ lebih sedikit dibandingkan saat pembelajaran tatap muka.

Penumbuhan minat baca bisa dibangun dengan membaca untuk kesenangan (reading for enjoyment) mendekatkan pada dunia anak dan remajayang menyukai hal hal yang memanjakan imajinasinya dengan membaca buku-buku fiksi. Selain mengurangi resiko learning loss dengan membentuk kebiasaan membaca anak terhindar dari tekanan psikis karena sebagian besar waktu mereka hanya diisi dengan membaca buku pelajaran. Juga mengurangiporsi banyaknya waktu terbuang karena bermain gadget atau menontontelevisi. Banyaknya waktu luang pada masa PJJ di fase pandemi ini sesungguhnya dapat kita gunakan untuk mengambil momentum penumbuhan minat baca anak. (*)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar