Info Sekolah
Minggu, 16 Jun 2024
  • Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman Bertaqwa Berakhlak Mulia, Unggul dalam Prestasi, dan Cinta Lingkungan

DESAIN BAHAN AJAR MATEMATIKA SMA/SMK BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS

Diterbitkan :

Eris Fanny Firdaus1), Eka Farida Fasha2), M. Faisal Abduh3)

1),2)Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban, Jalan Raya Pagojengan Km.3 Paguyangan Kec. Paguyangan Kab. Brebes, Jawa Tengah, Indonesia 3)SMA N 1 Kersana, Jalan Stasiun Kersana, Cigedog, Kab. Brebes, Jawa Tengah, Indonesia

ersfirdaus.88@gmail.com, efaridafasha@gmail.com, faismuhammad.teacher@gmail.com

Jurnal, JES-MAT, Vol. 7 No.1 Maret 2021

Abstract

This research is a development research with the aim of this research is to obtain HOTS-based mathematics textbooks that are valid and suitable for use and can support students’ mathematical abilities, one of which is high-order thinking skills. The 2013 curriculum emphasizes modern pedagogical dimensions in learning, namely using a scientific approach. The research method used is development research or known as R&D (research and development). R & D model used is Borg and Gall which includes the following stages: preliminary study, design, product development. The final stage of Borg and Gall’s R&D research method is implementation. Researchers used the modified results of the Borg and Gall R&D research method due to limited research time and ineffective pandemic conditions for maximum implementation, as evidenced in a limited trial of online learning to one class XI SMA in Brebes only about 20% responded. The teaching materials developed are in the form of learning modules for SMA and SMK levels. The results of this study can be concluded that the developed book products meet the very good criteria of each category. In other words, the developed book product is said to be valid and suitable for use.

Keywords: Teaching materials, Higher Order Thinking Skils

Abstrak

 Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan tujuan penelitian ini adalah mendapatkan buku ajar metematika berbasis HOTS yang valid dan layak digunakan dan dapat menunjang kemampuan matematis siswa salah satunya kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan R&D (research and development). Model R&D yang digunakan adalah Borg and Gall yang meliputi tahapan: studi pendahuluan, perancangan, pengembangan produk. Tahapan terakhir metode penelitian R & D dari Borg and Gall adalah implementasi. Peneliti menggunakan hasil modifikasi dari metode penelitian R&D Borg and Gall karena keterbatasan waktu penelitian dan kondisi pandemi yang tidak efektif untuk melakukan implementasi yang maksimal, terbukti pada uji coba terbatas pada pembelajaran online kepada satu kelas XI SMA di Brebes hanya sekitar 20% yang merespon. Bahan ajar yang dikembangkan berupa modul pembelajaran untuk tingkat SMA dan SMK. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa produk buku yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat baik dari masing -masing kategori. Dengan kata lain produk buku yang dikembangkan dikatakan valid dan layak digunakan.

Kata Kunci : Bahan Ajar, Higher Order Thinking Skils

Cara Menulis Sitasi: Firdaus, E., F., Fasha, E., F., & Abduh, M., F. (2021). Desain Bahan Ajar Matematika SMA/SMK Berbasis Higher Order Thinking Skills. Jurnal Edukasi dan Sains Matematika (JES-MAT), 7 (1). 75-84.

 

PENDAHULUAN

Tantangan abad ke-21, menuntut adanya pendidikan yang bermutu untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memliki kompetensi 6C. menurut (BNSP, 2010) kompetensi 6C meliputi Critical-Thinking and Problem-Solving Skills, Communication and Collaboration Skills, Creativity and Innovation Skills, Information and Communications ,Technology Literacy Contextual Learning Skills dan Information and Media Literacy Skills.

Sejalan dengan tantangan abad ke- 21, Kemendikbud melakukan terobosan dengan memberlakukan kurikulum 2013, guna meningkatkan mutu pendidikan agar mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing secara global di masa yang akan datang.. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengkomunikasikan. Siswa dilatih untuk mampu berpikir logis, runtut dan sistematis, dengan memenggunakan kapasitas berpikir tinggi (Higher Order of Thinking Skill/HOTS). Keterampilan berpikir tingkat tinggi berbasis pada Taksonomi Bloom yang direvisi terdapat tiga ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi analisa, evaluasi dan mencipta.

Pohl mengungkapkan Taksonomi Bloom merupakan dasar bagi berpikir tingkat tinggi. (Lewy, 2009). Keberhasilan penguasaan suatu konsep didapatkan ketika siswa tidak hanya dapat mengingat dan memahami suatu konsep, namun siswa dapat menganalisis serta mensintesis, mengevaluasi, dan mengkreasikan suatu konsep dengan baik, konsep yang telah dipahami tersebut dapat melekat dalam ingatan siswa dalam waktu yang lama, sehingga penting sekali bagi siswa untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS  (Laily, 2013)

Isu yang ramai dibicarakan tentang pelaksanaan UN tahun 2018 memuat beberapa soal HOTS khususnya mata pelajaran matematika, dimana pada tahun- tahun sebelumnya tidak diberlakukan soal HOTS. Ditinjau dari segi tujuan pelaksanaan UN sebagai tolak ukur standar nasional dalam mencapai kualitas siswa, maka sudah seharusnya terdapat komponen soal dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia pasal 1 ayat 4 Tahun 2005 seharusnya soal Ujian Nasional yang diselenggarakan di Indonesia didalamnya mencakup soal HOTS agar tujuan dan fungsi Ujian Nasional tercapai sehingga menghasilkan lulusan berkualitas yang kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataannya pada pembelajaran di sekolah jarang sekali membahas soal-soal HOTS, karena itulah seakan kaget menghadapi UN dimana memeuat beberapa soal HOTS, sehingga menjadi pembicaraan dan isu yang menarik. Kemendikbud merilis capaian Nilai Ujian Nasional SMA/MA mata pelajaran Matematika Program IPA, secara umum rata-rata nilai UN matematika tahun 2018 menurun daripada tahun-tahun sebelumnya (Kemendikbud, 2018).

Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan berpikirnya masih rendah adalah kurang terlatihnya anak Indonesia dalam meyelesaikan tes atau soal soal yang sifatnya menuntut analisis, evaluasi, dan kreativitas yang tinggi. Soal-soal yang memiliki karakteristik tersebut adalah soal-soal untuk mengukur HOTS (Dewi, 2016). Siswa harus terus dilatih untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, agar siswa dalam memahami materi yang dipelajari dengan baik (Pratiwi, 2015).

Berdasarkan paparan di atas, diperlukan pengembangan bahan ajar matematika SMA yang dapat memfasilitasi HOTS siswa. beberapa peneliti terdahulu telah melakukan penelitian pengembangan untuk memfasilitasi kemampuan matematis tingkat tinggi, diantaranya (Destiana, Sumarni, & Adiastuti, 2020; Yuniar, Sumarni, & Adiastuty, 2020). (Destiana et al., 2020) mengembangkan bahan ajar berupa LKS bangun datar dengan pendekatan konstruktivis untuk meningkatkan kemampuan matematis. Selanjutnya (Yuniar et al., 2020) mengembangkan  media pembelajaran pada materi menggunakan adobe flash dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis.

Berbeda dengan penelitian terdahulu, penelitian ini bertujuan mengembangkan produk berupa bahan ajar matematika SMA berbasis HOTS yang layak/valid. Bahan ajar matematika berbasis HOTS ini diharapkan akan dapat membantu siswa menyelesaikan permasalahan soal-soal HOTS sehingga siswa akan terbiasa dengan soal HOTS.

 

LANDASAN/KAJIAN TEORI

Bahan Ajar

Buku ajar adalah jenis buku yang digunakan dalam aktivitas belajar mengajar yang disusun sesuai dengan rencana pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu (Arifin, 2010). Sedangkan Prastowo, (2011) mendefinisikan buku ajar adalah buku yang berisi teks tertulis yang mengandung ilmu pengetahuan. Berdasarkan penjelasan ke dua pakar tersebut jadi Buku ajar merupakan salah satu jenis bahan ajar yang berupa bahan cetak.Berdasarkan pandangan mengenai makna buku ajar tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa buku ajar adalah kumpulan bahan ajar berbentuk cetak yang dijilid dan sengaja dirancang untuk digunakan sebagai sumber belajar dalam sebuah proses pembelajaran.

Bahan Ajar Berbasis Higher Order Thinking Skils

Bahan ajar merupakan salah satu faktor penting dalam keefektifan pembelajaran. Tidak adanya bahan ajar dalam proses pembelajaran tentunya akan mempengaruhi kualitas pembelajaran (Rahayu, 2009). Korniawati, (2016) menayatakan bahwa kegunaan bahan ajar dapat membantu memahami dan mengingat informasi. beberapa langkah yang harus dilakukan dalam pengembangan suatu bahan ajar, yaitu analisis kebutuhan bahan ajar, menyusun peta bahan ajar, dan mengembangkan bahan ajar berdasarkan struktur dan bentuk materi ajar yang dikembangkan (Prastowo, 2011). HOTS salah satu hal penting yang perlu diinovasikan ke dalam bahan ajar. The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argument (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang. Menurut (Hoeng, 2011) kemampuan berpikir tingkat tinggi didefinisikan sebagai penggunaan pikiran secara luas untuk menemukan tantangan baru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi yang baru.

(Woolfolk, 2008) menyatakan peserta didik yang memiliki keterampilan berfikir tingkat tinggi mampu membedakan antara fakta dan opini, mengidentifikasi informasi yang relevan, memecahkan masalah, dan mampu menyimpulkan informasi yang telah dianalisisnya. Dari uraian yang telah dijelaskan beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpiki yang menuntut seseorang untuk mengelola informasi baru ataupun pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi yang ada dengan cara tertentu sehingga memberikan mereka pengertian dan implikasi baru. Menurut Uno, (2012) soal HOTS memiliki empat indikator, yaitu:

  1. Problem solving atau proses dalam menemukan masalah serta cara memecahkan masalah berdasarkan informasi yang nyata, sehingga dapat ditarik
  2. Keterampilan pengambilan keputusan, yaitu ketrampilan seseorang dalam memecahan masalah melalui pengumpulan informasi untuk kemudian memilih keputusan terbaik dalam memecahkan
  3. Keterampilan berpikir kritis adalah usaha untuk mencari informasi yang akurat yang digunakan sebagiamana mestinya pada suatu masalah
  4. Keterampilan berpikir kreatif, artinya menghasilkan banyak ide sehingga menghasilkan inovasi baru untuk memecahkan

Ketrampilan berpikir tingkat tinggi adalah kegiatan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi. Secara hirarki taksonomi Bloom terdiri dari enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), pengaplikasian (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Pegembangkan taksonomi Bloom atau revisi taksonomi Bloom menjadi mengingat (remember), memahami (understand),  mengaplikasikan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate) dan menciptakan (create). Enam level inilah yang sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang di kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6 (Anderson, 2001).

Dalam    perkembangan    taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathworl dan Andrerson,  remembering           (C1), understanding(C2), applying(C3) dikategorikan dalam Lower order thinking skills (LOTS) , sedangkan analyzing(C4), evaluating(C5) dan creating(C6) dikategorikan dalam Higher Order Thinking Skills (HOTS) (Kuswana, 2012). Taksonomoi Bloom domain kognitif hanya terdiri dari satu dimensi saja, namun taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Anderson dan Krathwohl berubah menjadi dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah Knowledge Dimension (dimensi pengetahuan) dan Cognitive Process Dimension (dimensi proses kognitif). Dimensi proses kognitif terdapat 6 kategori, yaitu  kemampuan mengingat, memahami, menerapkan menganalisis,  mengevaluasi, dan mencipta.

Desain bahan ajar berbasis HOTS ini merupakan bahan ajar yang berisi materi-materi matematika SMA/SMK dimana pembahasan materi dicontohkan dengan permasalahan-permasalahan soal HOTS. Soal HOTS sendiri soal-soal yang mencapai level sesuai taksonomi Bloom pada level C4 sampai C6.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan R&D (research and development). Prosedur pengembangan yang dikembangkan oleh Borg & Gall (2007: 775).

“The major step in the R & D cycle used to develop minicourses are as follows: Research and information collecting, Planning, Develop preliminary form of product, Preliminary field testing, Main product revision, Main field testing, Operational product revision, Operational field, Final produc revision, Disemination and implementation”

Berdasarkan kutipan di atas bahwasannya tahapan terakhir metode penelitian R & D dari Borg and Gall adalah implementasi. Peneliti menggunakan hasil modifikasi dari metode penelitian R&D Borg and Gall karena keterbatasan waktu penelitian dan kondisi pandemi yang tidak efektif untuk melakukan implementasi yang

maksimal, terbukti pada uji coba terbatas pada pembelajaran online kepada satu kelas XI SMA hanya sekitar 20% siswa yang merespon. Modifikasi tersebut yang meliputi tahapan: Studi Pendahuluan, Perancangan, Pengembangan (validasi dan Uji Produk)  (Sukmadinata, 2013).

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian pengembangan bahan ajar ini dilaksanakan pada tahun 2020. Dilaksanakan mulai dari bulan Maret – bulan November 2020. Penelitian dilaksanakan di salah satu SMA Brebes.

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI, sebanyak satu kelas salah satu SMA di Brebes.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian pengembangan ini meliputi tahapan:

  1. Studi Pendahuluan, yaitu dengan melakukan wawancara dan FGD dengan para praktisi dan didapatkan kurikulum matematika untuk tingkat SMA/SMK.
  2. Perancangan produk, yaitu membuat rancangan soal HOTS berdasarkan dengan informasi/data yang diperoleh dari tahap sebelumnya yaitu studi
  3. Pengembangan (Validasi dan Uji Produk), yaitu melakukan validasi kepada validator dan ujicoba terbatas pada siswa kelas XI SMA. Berikut gambar bagan alur pengembangan di bawah

 

Gambar 1. Bagan Alur Penelitian Desain Bahan Ajar Pembelajaran Matematika SMA/SMK berbasis HOTS

Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Penelitian pengembangan ini menggunakan wawancara tidak terstruktur untuk melakukan analisis kebutuhan, dimana mewawancarai terkait kebutuhan sumber belajar yang dibutuhkan di sekolah untuk menunjang kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Lembar validasi dalam mengukur kevalidan yang divalidasi oleh validator, mencakup dari indicator HOTS, kesesuaian/ketercakupan materi dengan kurikulum, dan keterbacaan.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan dalam menetapkan kevalidan produk yang dikembangkan. Data yang didapatkan dari proses validasi oleh validator dirata – ratakan untuk melihat kevalidan produk bahan ajar yang dikembangkan dengan melihat kriteria dari hasil rata-rata yang didapat. Bahan ajar dianggap valid dan layak apabila memenuhi kriteria baik atau sangat baik, sesuai pengkategorian yang diadopsi dari (Eko, 2012) pengkategorian kelayakan antara lain 1 < p ≤ 2 tidak baik (TB), 2 < p ≤ 3 kurang baik (KB), 3 < p ≤ 4 baik (B), 4 < p ≤ 5 sangat baik SB).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Desain produk dalam penelitian pengembangan ini merupakan buku teks yang berupa buku mata pelajaran Matematika untuk tingkat SMA/SMK. Produk pene;itian ini dirancang berbasis HOTS dimana didalam buku ini dari contoh soal dan Latihan soal yang diberikan merupakan soal HOTS sesuai level taxonomi Bloom.

Pada studi pendahuluan dilakukan analisis kebutuhan dan masalah melalui wawancara dan FGD diperoleh informasi bahwa, kurikulum matematika tingkat SMA dan SMK, tidak dilakukan pembiasaan Latihan soal HOTS pada siswa, Kurangnya bahan ajar yang memuat instrument soal HOTS. Berdasarkan studi pendahuluan maka disimpulkan sumber belajar yang dibutuhkan berupa buku untuk menunjang pembelajaran dimana memuat soal-soal HOTS. Analisis kebutuhan ini yang mendasari rancangan produk, oleh karena itu analissi kebutuhan penting dilakukan. Menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan yang penting   dalam   mendesain   pembelajaran ( Nasrulloh, 2017)

Produk yang dirancang sesuai dengan analisis kebutuhan yang mana berbentuk buku teks pelajaran matematika tingkat SMA/SMK yang dilengkapi contoh soal dan Latihan soal HOTS level 4, 5 dan 6 sesuai pengkategorian raksonomi Bloom. Materi yang disajikan dalam rancangan buku tersebut menyesuaikan kurikulum 2013 tingkat SMA/SMK. Produk buku dirancang semenarik mungkin dengan desain gambar dan berwarna, tentunya gambar disesuaikan dengan kesesuaian materi.

Gambar 2. Tampilan halaman modul yang memuat instrumen soal HOTS

Produk buku yang sudah dirangcang diujikan menggunakan uji validasi konstruk dengan dinilai oleh ahli yang disebut dengan validator. Dalam pengembangan produk ini melibatkan 4 validator diantaranya 2 dosen dan 2 guru Matematika tingkat SMA dan SMK. Hasil dari validator ini yang dijadikan dasar untuk merevisi produk buku sesuai dengan catatan dan saran validator. beberapa yang direvisi

antara lain, penggunaan kalimat yang baku dan tidak bermakna ambigu, kesesuaian gambar yang digunakan, dan cntoh-contoh soal yang dirasa tidak memenuhi level HOTS sesuai pengkategorian taksonomi Blomm. Produk buku yang telah direvisi dilakukan pengujian validasi Kembali oleh validator dan didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 1. Hasil Validasi Produk Buku Matematika SMA/SMK berbasis HOTS

Kategori Rerata Keterangan
Ketercakupan Materi 4,64 Sangat baik
Kesesuaian level HOTS 4,2 Sangat baik
Keterbacaan 4,62 Sangat baik
Komposisi Buku/Modul 4,5 Sangat baik

Hasil   dari    tabel   di   atas    dapat disimpulkan   bahwa   produk   buku yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat baik dari masing -masing kategori, antara lain ketercakupan materi artinya meteri yang disajikan dalam produk buku tersebut sudah memenuhi sesuai kebutuhan dan kurikulum. Kesesuain level HOTS dengan nilai 4,2 kategori sangat baik, artinya kesesuain level HOTS telah dipenuhi dinama level yang dipakai adalah level 4, 5 dan 6 sesuai pengkategorian taksonomi Blomm.  Dengan demikian modul pembelajaran ini dapat digunakan sebagai  sarana pembiasaan siswa Latihan menyelesaikan soal-soal HOTS, karena salah satu faktor  yang menyebabkan kemampuan berpikirnya masih rendah adalah kurang terlatihnya anak Indonesia dalam meyelesaikan tes atau soal soal yang sifatnya menuntut analisis, evaluasi, dan kreativitas yang tinggi. Soal-soal yang memiliki karakteristik tersebut adalah soal- soal untuk mengukur HOTS (Dewi, 2016). Keterbacaan dengan nilai 4,62 kategori sangat baik, artinya Bahasa dan kalimat yang digunakan dalam produk buku tersebut dapat dipahami. Komposisi buku dengan nilai 4,5 kategori sangat baik, artinya penyusunan produk buku tersebut disusun dengan baik, mulai dari lay out, cover, dan isi. Dengan kata lain dari penjabaran hasil validasi, produk buku tersebut dapat katakan valid dan layak

digunakan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya produk buku yang dikembangakan memenuhi kategori sangat baik dari setiap item kategori. Dengan kata lain produk buku yang dikembangkan dikatakan valid dan layak digunakan.

Saran

Saran yang dapat diberikan oleh peneliti, apabila melakukan penelitian pengembangan sebaiknya lebih teliti lagi dalam melakukan studi pendahuluan, karena tahap ini sangat penting dan berperan dalam menghasilkan produk

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L. W. (2001). Learning, Teaching, and Assessing: A revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Longman: NY.

Arifin, S. A. (2010). Sukses Menulis Buku Ajar & Referensi. Jakarta: Grasindo.

BNSP. (2010). Paradigma Pendidikan Nasional di Abad 21. Jakarta: BNSP.

Destiana, O., Sumarni, & Adiastuti, N. (2020). Developing Geometry Side Flat Learning Devices With a Contructivist Appoarch Base on Mathematical. M A T H L I N E JURNAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA, 5(2), 128–145.

Dewi, N. (2016). Analisis Kemampuan Berpikir Kompleks melalui Pembelajaran Berbasis Masalah berbantuan Mind Mapping. Jurnal Edu Sains, Vol 8 No 1.

Eko, P. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hoeng, Y. M. (2011). The Level of Marzano Higher Order Thinking Skills Among Technical Education Students. International Journal of Social and Humanity, Vol.1 No.2.

Kemendikbud. (2018). Rekap Hasil UN Tingkat Sekolah. Jakarta: https://puspendik.kemendikbud.go.i d/hasil-un/ , pada 22 Desember 2018.

Korniawati, E. K. (2016). Validitas Cemistry Handout Sebagai Inovasi Bahan    Ajar     Stoikiometri Berstrategi. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol.10 No.1, 1629-1640.

Kuswana, W. S. (2012). Taksonomi Kognitif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. . 2012. Taksonomi Berpikir. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Laily, N. R. (2013). Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS) dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, vol 9 No 1.

Lewy, Z. N. (2009). Pengembangan Soal untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Kelas akselerasi SMP Xaverius Maria Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, , 14-28.

Nasrulloh, A. I. (2017). Analisis Kebutuhan Pembelajaran Berbasis ICT. Jurnal PETIK, 28-32.

Prastowo, A. (2011). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.

Rahayu, A. H. (2009). Pengembangan Bahan Ajar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Strategi Pembelajaran. Jurnal  Penelitian        dan Pembelajaran Fisika Indonesia Vol.1 No.1, 26-30.

Sukmadinata, N. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Umi Pratiwi, E. F. (2015). Pengembangan Instrumen Penilaian HOTS berbasis Kurikulum 2013 Terhadap Sikap Disiplin. Jurnal Penelitian Pembelajaran IPA, vol 1 No 1.

Uno, H. (2012). Assesment Pembelajaran. .

Jakarta: Bumi Aksara.

Woolfolk, A. (2008). Educational Psychology Active earn- ing Edition 10th ed. Pearson Education, inc.

Yuniar, F., Sumarni, S., & Adiastuty, N. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Segiempat Berbasis Adobe Flash Cs6 Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning Untuk Memfasilitasi Kemampuan Koneksi Matematis. Jurnal Edukasi Dan Sains Matematika (JES-MAT), 6(2), 101. https://doi.org/10.25134/jes- mat.v6i2.3413

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar