Info Sekolah
Sabtu, 15 Jun 2024
  • Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman Bertaqwa Berakhlak Mulia, Unggul dalam Prestasi, dan Cinta Lingkungan

FAKTOR PENYEBAB KESULITAN SISWA SMA NEGERI 1 KERSANA DALAM KETRAMPILAN BERBICARA BAHASA JAWA SESUAI UNGGAH-UNGGUH BASA

Diterbitkan : - Kategori : Karya Guru

Oleh Ilmi Handayani, S.Pd

Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Kersana

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar Tegal tanggal 26 Juli 2022)

 

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera,Bahasa dan Lambang Negara,serta lagu Kebangsaan mengamanatkan agar bangsa Indonesia mengutamakan Bahasa Indonesia,melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Pengutamaan bahasa Indonesian bertujuan untuk menjaga NKRI dan kebhinekaan kita,agar tidak diganggu oleh pihak manapun karena bahasa adalah symbol dan prodak besar negara kita.

Di era persaingan global ini maka kuasai bahasa asing sebanyak mungkin karena itulah daya saing bangsa semakin tinggi. Untuk itu apabila orang Indonesia mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar,bertanggung jawab melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing maka SDM bangsa Indonesia akan semakin unggul ke depannya.

Bahasa Jawa merupakan salah satu dari lebih kurang 400 bahasa daerah dan dialek yang ada di Indonesia ( Lembaga Bahasa Nasional dalam Romdonah 2000:1). Sebagai salah satu bahasa daerah, bahasa Jawa ternyata memiliki wilayah pakai cukup luas. Daerah pemakaian bahasa tersebut membentang di perbatasan Jawa Barat, Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Selain itu bahasa Jawa digunakan di propinsi-propinsi lain di Indonesia yang ada di permukaan orang Jawa di daerah transmigrasi. Di luar Indonesia negara Suriname juga merupakan wilayah pemakaian bahasa Jawa. Wilayah luas seluas itu memungkinkan perbedaan pemakaian yang sangat menonjol dan menciptakan berbagai dialek geografis (Sudaryanto 1992:3). Dengan demikian Bahasa Jawa juga memiliki dialek yang tidak sedikit jumlahnya,missal dialek Pesisir Utara Jawa Tengah,dialek Banyumas, dialek Surabaya dan dialek Yogyakarta.

Secara geografis Kabupaten Brebes terletak di wilayah Pantai Utara yang berbatasan dengan propinsi Jawa Barat. Kabupaten ini di sebelah Selatan berbatasan dengan eks-Karesidenan Banyumas. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tegal. Disebelah barat kabupaten ini berbatasan denga neks-Karesidenan Cirebon, sedangkan sebelah Utara berbatasan dengan laut Jawa. Masyarakat di Kabupaten Brebes merupakan kelompok masyarakat yang multietnik. Kelompok masyarakat yang terdapat di daerah ini itu adalah kelompok masyarakat Jawa, Masyarakat Sunda serta kelompok masyarakat yang lainnya (Bappeda Kab Brebes 2000)

Sebagian besar penduduk Kecamatan Kersana menggunakan bahasa Jawa dialek Brebes, atau biasa disebut dengan Bahasa Jawa Brebes. Di Kecamatan ini, terdapat juga penduduk yang menggunakan Bahasa Sunda yang biasanya dikenal sebagai Bahasa Sunda Brebes, yaitu di Desa Kradenan, Desa Pende, dan Desa Sindangjaya. Sementara itu ada satu desa yang masyarakatnya secara bersamaan menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Sunda Brebes serta Bahasa Jawa yang biasanya dikenal dengan Bahasa Jawa Brebes yaitu Desa Kubangpari. Atas fenomena ini, boleh dikatakan secara kultur, merupakan suatu ciri yang unik apabila dikaji lebih lanjut mengenai pengaruh penggunaan bahasa di wilayah ketiga desa ini dikaitkan dengan kebudayaan yang memengaruhi yaitu budaya Sunda dan budaya Jawa.

SMAN 1 Kersana berada di kecamatan Kersana desa Cigedog,sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tanjung, sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Ketanggungan, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Banjarharjo dan sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Losari. Sebagian siswa SMAN 1 Kersana berasal dari desa perbatasan kecamatan Banjarharjo dan kecamatan Losari yang Sebagian berbahasa Sunda.  Dalam kehidupan sehari hari menggunakan Bahasa Sunda Brebes. Banyak juga siswa pindahan dari Jawa Barat,untik itu penggunaan Bahasa jawa jarang dilakukan oleh siswa tersebut karena keseharian dalam keluarga menggunakan Bahasa Sunda dan tak jarang menggunakan Bahasa Indonesia. Siswa yang berasal dari kecamatan Kersana sendiri jarang yang mengetahui penggunaan Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh Bahasa karena mereka dalam lingkungan keluarga sudah terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ngoko,itu bagi yang secara ekonomi tergolong menengah kebawah,sedangkan mereka yang tergolong dalam ekonomi menengah ke atas dalam lingkungan keluarga menggunakan Bahasa Indonesia.

Dalam pemahaman siswa SMA N 1 Kersana,ragam  krama itu Bahasa yang dalam pengucapannya menggunakan huruf  A menjadi O, misalnya ‘ana apa bu’ (ada apa bu?) mereka menyampaikannya menggunakan  ucapan ‘ ono opo Bu? .Dalam keseharian mereka tidak mengenal Ragam Krama yang mereka kenal itu ragam Jawa ngoko Adapun yang mengetahui ragam krama hanya 2% dari total siswa yang ada,itupun tidak digunakan dalam lingkungan keluarga.

Seiring kemajuan jaman dan teknologi Bahasa jawa di kalangan muda semakin kurang minat pengguna,mereka para kaum muda lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia atau menggunakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari. Dulu Bahasa jawa dipedesaan masih sangat kental dengan Bahasa jawanya dan tatanan unggah-ungguh basanya. Karena orang tua jaman dulu masih melestarikan penggunaan Bahasa jawa sebagai Bahasa ibu,dibanding dengan jaman sekarang semakin banyak generasi pasangan muda yang lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pengantar percakapan sehari-hari terhadap anaknya.Dengan demikian anak jaman sekarang atau lebih dikenal dengan generasi Z lebih mengenal Bahasa Indonesia dari pada Bahasa Jawa.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar