Info Sekolah
Jumat, 20 Mei 2022
  • Berakhlak Mulia, Unggu dalam Prestasi, dan Cinta Lingkungan

STORY TELLING SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN DI ERA PANDEMI

Diterbitkan :

Oleh : Ariana Isnaeni Pilihana, S.Pd

Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Kersana

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar tegal)

 

Siapa yang tidak suka mendengarkan Story telling? Apa itu story telling? Story Telling atau menceritakan sebuah cerita merupakan hal yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua kepada anak, guru kepada peserta didik, orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda, ataupun seorang motivator.

Menurut Craig (1996: 6) menjelaskan “In its most basic form, storytelling is a process where a person (the teller),using vocalization, narrative structure, and mental imagery communicates with other humans (the audience) who also use mental imagery and, in turn, communicate back to the teller primarily via body language and facial expression”. Jadi kemampuan mengkomunikasikan  cerita itu bisa dilakukan oleh siapa saja kepada orang lain dengan mengutamakan mental dan juga gaya tubuh.

Untuk meningkatkan budaya di Indonesia berbagai cara agar generasi milenial semakin mengenal kebudayaan dan cerita rakyat (folklore). Upaya ini di lakukan sebagai pendidik dalam menyampaikan materi bahasa Inggris tentang narrative text di SMA N 1 Kersana, ketika menghadapi kegiatan pembelajaran online berlangsung di era Pandemi Covid 19. Agar peserta didik tidak merasa jenuh dan kegiatan pembelajaran tidak membosankan maka pendidik harus lebih kreatif dan lebih berkreasi dalam menyampaikan materi. Ada banyak metode dalam kegiatan belajar mengajar tergantung bagaimana kita sebagai pendidik.

Dari berbagai macam model pembelajaran dalam menyampaikan narrative text salah satunya yaitu dengan Role play (bermain peran). Namun ada yang berbeda dalam menyampaikan materi narrative text kali ini yaitu story telling. Story telling biasanya di gunakan untuk ajang atau kontes perlombaan namun di SMA N 1 Kersana  di gunakan untuk model menyampaikan materi ketika mempraktekan sebuah cerita di narrative text. Dalam menyampaikan story telling diharapkan peserta didik mampu bekerja sama dengan pendidik. Berbagai macam tema dalam narrative text yang dipelajari yaitu tentang budaya, pahlawan dan cerita rakyat.

Dalam menyampaikan story telling yang tidak boleh ditinggalkan oleh Peserta didik yaitu karakteristik.  Peserta didik juga perlu memperhatikan berbagai macam teknik dalam story telling. Teknik dan gaya bercerita itu berkaitan dengan gerakan tubuh (gesture) selama membawakan cerita seperti gerakan tangan, kaki dll. Intonasi  yaitu yang berkaitan dengan cepat atau lambatnya pembawaan cerita. Interaksi dengan audien itu berkaitan dengan bagaimana peserta mampu menarik perhatian audien selama membawa cerita. Suara yang berkaitan dengan jangkauan suara peserta selama membawakan cerita, apakah mampu didengar audien atau tidak. Kemudian penampilan, dalam penampilan yaitu berkaitan dengan kostum dan juga properti yang digunakan selama membawakan cerita sesuai dengan tema dan judul yang di bawakan. Ekspresi yang berkaitan dengan ekspresi wajah untuk menyakinkan audien selama membawakan cerita. Ketepatan waktu yang berkaitan dengan lama waktu yang dihabiskan selama pembawaan cerita, apakah melebihi batas maksimal atau tidak. Dan yang terakhir adalah penguasaan panggung yaitu yang berkaitan dengan kepercayaaan diri diatas panggung dengan bagus, menggunakan bahasa tubuh jika diperlukan. Para peserta didik sangat merasa tertantang dengan kegiatan ini, mereka berusaha saling bersaing untuk mendapatkan apresiasi dari gurunya.

Banyak kendala yang dihadapi para peserta didik terutama masih kurangnya penggunaan waktu, pronounciation yang belum tepat dan kelancaran dalam menyampaikan isi cerita. Hal ini menjadikan peserta didik sangat berantusias dan semakin bekerja keras untuk lebih baik dan lebih kreatif dalam menyampaikan story telling.

Dan seiring perkembangan zaman dengan meningkatnya media teknologi digital yang semakin canggih dan modern ini sebagai pendidik tidak bisa melihat atau menyaksikan langsung penampilan mereka maka peserta didik menyampaikan penampilannya dengan menggunakan berbagai cara yaitu dengan menggunakan media sosial antara lain whatsaap, webex, facebook, youtube, dll. Media sosial ini berperan mengubah teacher center menjadi student center.

Peran peserta didik dalam menyampaikan story telling yaitu mampu meningkatkan kemampuan berkarya dan berkreasi dengan menciptakan hasil yang memuaskan dari semangat peserta didik di era pandemic ini. Langkah-langkah yang mereka tempuh sangatlah bervariatif dan penuh dengan inovatif dalam pembelajaran mengenai story telling.

Nilai positif dari peserta didik ketika menerima materi narrative text yaitu dengan menggunakan story telling sebagai metode pembelajaran di era pandemi maka mereka semakin banyak memahami  tentang pesan dan nilai-nilai yang tersirat dalam isi cerita yang di sampaikan. Story Telling ini digunakan dengan harapan kita bisa memetik sesuatu yang berharga guna membangkitkan motivasi baru dalam membangun masa depan anak bangsa yang cerah. Beraneka ragam metode membuat peserta didik semakin menambah wawasan dalam belajar bahasa Inggris dengan pembelajaran online.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar